Saturday, December 27, 2008

Saat Servis Motor, Jangan Lupa Komponen Lain

Peringatan buat pemilik motor. Bukan cuma mesin yang butuh perawatan, tetapi banyak komponen lainnya. Diperparah lagi, kalau dibawa ke bengkel, umumnya cuma servis mesin plus tambahan lain seperti setting ulang karburator, kepala silinder, dan setel kelep.

"Banyak bengkel mengerjakan sesuai dengan keluhan atau permintaan konsumen. Komponen seperti rantai, rem, shockbreaker, dan aki sering dilupakan," ujar Syahbani alias Ujang Bani, mekanik bengkel Bany Motor Sport di Jakarta Barat.

Seperti rantai, kepedulian muncul begitu merasa sudah kendur. Padahal, komponen penggerak roda belakang ini perlu dilumasi pada waktu-waktu tertentu sebab, akibat gesekan, pelumas rantai akan panas dan mengering. Belum lagi kotoran menempel. "Makanya, sebelum melumasi dibersihkan dulu rantai berikut sprocket-nya," tegas Ujang.

Begitu juga dengan rem, banyak pengendara hanya merasakan jarak main, baik yang di pedal kaki, maupun tuas tangan. Kalau kondisi rem sudah tidak menggigit, kata Peter Dionisius, Supervisor Divisi R&D Prestone (produsen minyak rem), paling minta disetel.

Padahal, minyak rem juga perlu perawatan dengan menggantinya setiap 10.000 km. Cirinya, sewaktu tuas rem ditarik atau pedal diinjak (rem belakang) terasa lembut atau keras. Itu artinya, minyak rem sudah terkontaminasi dengan air atau angin palsu.

"Jangan hanya menambah minyak rem sebab setelah dipakai, kemampuan minyak turun. Bisa karena senyawanya berubah jadi air dan udara atau tercemar debu. Walau ditambah, fungsi pengereman tidak maksimal," tambah Dion—sapaan akrab Peter Dionisius.

Selain rantai dan rem, shockbreaker juga butuh perawatan. Kebanyakan pemilik motor meliriknya jika sudah terjadi kebocoran. Padahal, tambah Dion, tanpa bocor pun pelumas shock wajib diganti karena punya usia pakai. Cirinya, ayunan sudah empuk lantaran kualitas oli encer. Disarankan penggantian oli dilakukan setiap 6 bulan sekali, tergantung juga mobilitasnya.

Untuk skubek, jangan lupa cek kondisi roller. Jika sudah peyang, motor terasa bergetar. Sekalian periksa belt CVT, biasanya bengkel resmi punya alat pengukur.

Terakhir, aki. Untuk motor yang usianya di atas lima tahun, pemeriksaan dilakukan minimal dua minggu sekali, terutama melihat ketinggian air aki. Merawat aki justru lebih mudah. "Saat memeriksa ketinggian air aki, cek juga ada jamur di sekitar kutub positif dan negatif aki. Guyurkan air panas untuk mengusirnya," bilang Sahrudin, Technical Support dari GS Battery. Ia juga menyarankan kuras aki setiap 3 bulan dan ganti dengan aki zuur dan setrum lagi.

Monday, December 22, 2008

Honda Cumi CBR 1000RR dari Depok

Dari sisi yang mana menggambarkan Cuminya? Mungkin desain fairing dan centerbone seperti tentakel pada hewan laut. Selain itu, jika dilihat dari kejauhan, Anda pasti menduga si hitam yang melesat cepat itu CBR 1000RR.

Modelnya memang CBR1000RR, “Makanya disebut Cumi (Cuma mirip),” bilang Wardoyo, builder dari rumah modifikasi Dave Motor Concept (DMC) yang menggarap motor milik Hamka dari Depok.

Basis motor itu sendiri sebenarnya Honda CBR150R buatan 2007. Menurut Wardoyo, Hamka minta dibikinkan semirip mungkin CBR 1000RR, tanpa ditambah atau dikurangi. Karena punya pengalaman main di limbah moge plus ketok pelat besi maka permintaan Hamka dinilai tidak sulit.

Rancangan pun dimulai dari bagian depan. “Karena kejar CBR 1000RR versi terbaru, maka lampu depan yang dipilih punya CBR600. Sedikit lebih lebar, sih. Tapi, sudutnya mendekati. Lalu, dari lampu, fairing hingga engine-guard berbahan pelat dibentuk mirip moge Honda itu, sesuai dimensi,” bilang Wardoyo yang asli Sragen, Jawa Tengah itu.

Supaya garis lekukan pada tebeng samping tidak putus hingga ke belakang, bagian luar rangka asli deltabox di-custom ulang pakai pelat. Tujuannya agar dimensi ikut bertambah lebar dan selaras ketika dijadikan pegangan tebeng samping serta tangki yang juga sudah mendapat sentuhan.

Bagian buritan dibentuk lebih slim dari asli CBR 150R. Wardoyo mengaku, menggarap rangka bagian belakang dengan main ketok. Agar sedikit naik dan juga melebar sebelum digabung dengan centerbone.

Kurang sempurna bila kemiripan hanya pada bodi, sementara kaki-kaki standar. Untuk shockbreaker depan, standarnya diganti punya Honda RCV yang sedikit di-custom porosnya agar bisa masuk. Kebetulan dimensi shockbreaker pas dan tidak mengubah rake saat dipasang.

Sementara itu, bagian belakang masih memakai part asli, hanya lengan ayun di-custom dengan menambah panjang sekitar 7 sentimeter agar bentuknya selaras. Konsekuensinya harus menggeser maju posisi dudukan bawah monoshock sekitar 3 sentimeter.

Sipnya lagi, Wardoyo bisa menyelipkan knalpot handmade di buritan. Ini cukup pintar memanipulasi kekosongan lantaran dimensi mesin yang memang mau tak mau jadi kekecilan. Enggak apa-apa, terpenting keinginan Hamka sudah terwujudkan.

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax BT40 120/60-17
Ban belakang : Battlax BT40 10/70-17
Velg : CB400
Cakram : Nissin
Footstep : Honda RCV
Sein : Variasi
DMC : 0813-8057-1391

New Satria 150 dengan Polesan Yoshimura

Setelah lebih empat tahun bertahan dengan wajah yang sama, akhirnya PT Indomobil Niaga International (IMNI) Roda-2 memperkenalkan versi baru Suzuki Satria FU 150. Bebek supersport (gimmick marketing Suzuki menyebutnya: hyper underbone) ini diperkenalkan oleh Kenji Saito, Direktur Pemasaran IMNI, pada hari pertama pembukaan Jakarta Motorcycle Show, Sabtu (6/12).

Cukup menarik, komponen untuk mempergagah penampilan Satria ini diadopsi dari Yoshimura yang sudah sangat dikenal oleh para bikers di Tanah Air. Perubahan yang dilakukan Suzuki adalah mengganti model lampu depan dan fairing (tudung), panel instrumen (desain spidometer), ujung knalpot, rangka alumunium, dan behel atau pegangan belakang motor.

Kali ini, konsumen Indonesia cukup beruntung. Inilah model terbaru Satria yang hanya dipasarkan di tiga negara ASEAN dengan nama berbeda. Di Thailand diberi nama Raider, sedangkan di Filipina Dagger. Sayangnya, model ini muncul di saat krisis ekonomi mulai mencengkeram lebih dalam sebagian masyarakat atau konsumen motor kelas atas.

Satria vs Kompetitor - Dengan penampilan baru ini, harga Satria FU 150 pun melenjit. Berdasarkan informasi internal Suzuki, dalam dua bulan ini Satria sudah dua kali mengalami kenaikan harga. Terakhir, dengan anjloknya rupiah dan karena sebagian besar komponen Satria masih impor, kenaikkan harga pun mencapai Rp 800.000. Hasil akhir, saat diluncurkan, Suzuki membanderol Satria dengan harga Rp 17.890.000 (on the road di Jakarta dan sekitarnya).

Dibandingkan dengan kompetitor utamanya, yaitu Honda CS1, perbedaan harga hampir Rp 1 juta. Namun, Satria menang unggul untuk teknologi mesin, kapasitas dan tenaga yang dihasilkan. CS1 dipersenjatai Honda dengan mesin SOHC (single overhead camshaft) dengan kapasitas 125 cc, sedangkan Satria DOHC (double overhead camshaft).

Untuk tenaga, Satria masih unggul dengan kemampuan maksimum 16 PS @9.500 rpm, sedangkan CS1 12,8 PS @10.000 rpm. Kemampuan Satria menghasilkan torsi maksimum juga lebih baik, yaitu 1,27 kgf-m @8.500 rpm, sedangkan CS1 1,04 kgf-m @7.500 rpm.

Kompetitor lain Satria adalah Jupiter MX dengan mesin 135 cc yang saat ini versi paling mahal (cast wheel dan kopling otomatik) ditawarkan dengan harga Rp 15.050.000. Dari segi tenaga dan torsi Jupiter MX memang kalah. Tenaga maksimumnya 11,33PS @8.500 rpm dan torsi 1,165 kgfm @5.500 rpm.

Lampu Depan - Perubahan mencolok dari Satria adalah desain fairing dan lampu depan. Desain lampu depan mirip dengan Suzuki GSX-R600. Versi baru, lampu menggunakan bentuk mahkota dan di sampingnya lampu sein dengan mika transparan mirip kuping kelinci. Lampu ini dilengkapi dengan topi atau disebut juga “cowling” ber-garnish hitam. Topi lampu dipasang dengan cara menyekrupkannya pada fairing panel instrumen.

Panel Instrumen - Panel instrumen mengalami perubahan desain yang cukup berarti, meski posisi dan bentuk dasarnya sama dengan versi Satria terdahulu. Motif dasar bagian tengah panel instrumen kini dibuat seperti anyaman dinding bambu.

Takometer menggunakan model jarum dengan dasar instrumen putih berbentuk lingkaran. Di pinggir takometer diberi ornamen berlapiskan krom untuk memberi kesan sporty dan eksklusif. Versi lama, pinggiran takometernya berwarna hitam, sama dengan panel.

Bentuk angka dan ukuran juga berubah. Versi baru lebih besar (tentu saja makin mudah dibaca), sedangkan Satria lama menggunakan huruf reguler lama (italic atau miring). Instrumen lain dengan tayangan digital adalah spidometer, indikator bahan bakar, tripmeter, dan indikator mode “eco” dan “power”. Angka-angkanya mudah dibaca karena menggunakan dasar oranye.

Kini motor supersport bebek ini dilengkapi dengan dua pilihan model mengendarai yang disebut Suzuki dengan S-DMS (Suzuki Drive Mode Switch), yaitu "eco" dan "power". Tombol mode itu ditempatkan di sisi kanan panel instrumen dan mudah dicapai pengendara saat melaju.

Perubahan lainnya adalah di bagian depan, yaitu segitiga setang yang kini dilapisi dengan silver (sebelumnya hitam), sedangkan di bagian belakang, perubahan pada ujung corong knalpot. Versi baru berbentu oval segitiga, khas Yoshimura. Di belakang, behel atau pegangan di belakang sadel tampil dengan penampilan baru. Begitu pula dengan rangka alminium baru dengan pelindung kaki di kanan dan kiri motor.

Spesifikasi New Satria FU 150
Mesin
Tipe
4-tak , DOHC, 4 katup,
silinder tunggal, pendingin udara
Kapasitas
147,3 cc
Diameter x langkah
62 x 48,8 mm
Perbandingan kompresi
10,2 : 1
Tenaga maks.
16 PS @9.500 rpm
Torsi maks.
1,27 kgf-m @8.500 rpm
Karburator
MIKUNI BS 26 - 187
Saringan udara
Kertas
Sistem starter
Kaki & elektrik
Transmisi
6 kecepatan, 1 ke atas, 5 ke bawah
Kopling
Multiplat, basah
Sasis
Suspensi Depan
Teleskopik, pegas spiral dan bantalan oli
Belakang
Monoshock, lengan ayun, pegas

spiral dan bantlan oli

Rem Depan & Belakang
Cakram
Ban & Roda Depan
70/90-17 38S

Belakang

80/90-17 44S